Selamat Membaca..bila blog ini bermanfaat bagi anda klik g+1 (yang punya akun google plus)dan tinggalkan komentar

Jumat, 12 April 2013

Senam Kaki DM

SENAM KAKI DIABETES MELLITUS


          1.1 Senam Kaki
   Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki. (S,Sumosardjuno,1986)Senam kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah dan memperkuat otot-otot kecil kaki dan mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki. Selain itu dapat meningkatkan kekuatan otot betis, otot paha, dan juga mengatasi keterbatasan pergerakan sendi. (www.diabetesmelitus.com).

1.2 Tujuan Senam Kaki
  1.  Memperbaiki sirkulasi darah
  2.  Memperkuat otot-otot kecil
  3.  Mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki
  4.  Meningkatkan kekuatan otot betis dan paha
  5.  Mengatasi keterbatasan gerak sendi


1.3 Indikasi dan Kontraindikasi
  • Indikasi
Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes mellitus dengan tipe 1 maupun 2. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Mellitus sebagai tindakan pencegahan dini.
  • Kontraindikasi
  1.  Klien mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dipsnu atau nyeri dada.
  2.  Orang yang depresi, khawatir atau cemas.


1.4 Hal Penting Sebelum Tindakan
  • Lihat Keadaan umum dan keadaran pasien
  • Cek tanda-tanda Vital sebelum melakukan tindakan
  • Cek Status Respiratori (adakan Dispnea atau nyeri dada)
  • Perhatikan indikasi dan kontraindiikasi dalam pemberian tindakan senam kaki tersebut
  • Kaji status emosi pasien (suasanan hati/mood, motivasi).


1.5 Implementasi
  • Persiapan Alat
Kertas Koran 2 lembar, Kursi (jika tindakan dilakukan dalam posisi duduk), handscoen.
  • Persiapan Klien
Kontrak Topik, waktu, tempat dan tujuan dilaksanakan senam kaki
  • Persiapan Lingkungan
Ciptakan lingkungan yang nyaman bagi pasien, Jaga privacy pasien
  • Prosedure Tindakan
  1. Perawat cuci tangan
  2. Jika dilakukan dalam posisi duduk maka posisikan pasien duduk tegak diatas bangku dengan kaki menyentuh lantai
  3. Dengan meletakkan tumit dilantai, jari-jari kedua belah kaki diluruskan keatas lalu dibengkokkan kembali kebawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali
  4. Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai, angkat telapak kaki ke atas. Pada kaki lainnya, jari-jari kaki diletakkan di lantai dengan tumit kakidiangkatkan ke atas. Cara ini dilakukan bersamaan pada kaki kiri dan kanan secara bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali.
  5. Tumit kaki diletakkan di lantai. Bagian ujung kaki diangkat ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.
  6. Jari-jari kaki diletakkan dilantai. Tumit diangkat dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.
  7. Angkat salah satu lutut kaki, dan luruskan. Gerakan jari-jari kedepan turunkan kembali secara bergantian kekiri dan ke kanan. Ulangi sebanyak 10 kali. 
  8. Luruskan salah satu kaki diatas lantai kemudian angkat kaki tersebut dan gerakkan ujung jari kaki kearah wajah lalu turunkan kembali kelantai. 
  9. Angkat kedua kaki lalu luruskan. Ulangi langkah ke 8, namun gunakan kedua kaki secara bersamaan. Ulangi sebanyak 10 kali. 
  10. Angkat kedua kaki dan luruskan,pertahankan posisi tersebut. Gerakan pergelangan kaki kedepan dan kebelakang. 
  11. Luruskan salah satu kaki dan angkat, putar kaki pada pergelangan kaki , tuliskan pada udara dengan kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara bergantian.
  12. Letakkan sehelai koran dilantai. Bentuk kertas itu menjadi seperti bola dengan kedua belah kaki. Kemudian, buka bola itu menjadi lembaran seperti semula menggunakan kedua belah kaki. Cara ini dilakukan hanya sekali saja.

  •         Lalu robek koran menjadi 2 bagian, pisahkan kedua bagian koran.
  •         Sebagian koran di sobek-sobek menjadi kecil-kecil dengan kedua kaki
  •         Pindahkan kumpulan sobekan-sobekan tersebut dengan kedua kaki lalu letakkan sobekkan kertas pada bagian kertas yang utuh.
  •         Bungkus semuanya dengan kedua kaki menjadi bentuk bola

Jumat, 29 Maret 2013

Latihan Berkemih Pada Lansia

METODE LATIHAN KEGEL
(Kozier, 1995 dalam Nursalam, 2006)

  1. Berdiri atau duduk dengan kaki terbuka.
  2. Kontraksikan atau mengejankan rektum, uretra, dan vagina, lalu tahan dengan hitungan 3-5 detik.
  3. Lakukan setiap kontraksi 10 kali dengan frekuensi 5 kali sehari.
  4. Anjurkan lansia untuk mencoba memulai dengan membuang air seni dan menghentikan laju urin pada perengahan.



METODE BLADDER RETRAINING
(Kozier, 1995 dalam Nursalam, 2006)

  1. Anjurkan lansia unuk buang air seni pada waktu sesuai dengan jadwal meskipun ada sensasi ingin miksi atau tidak ada karena ini akan membantu meningkatkan tonus otot kandung kemih dan kontrol volunter.
  2. Jika lansia mampu untuk mengontrol miksinya, interval jadwal miksi bisa diperpanjang.
  3. Berikan minum sebanyak 150-200 ml sekitar 1,5 jam sebelum miksi dan 2 jam menjelang tidur.
  4. Hindarkan minuman yang mengandung stimulan seperti teh, kopi, dan minuman beralkohol.
  5. Berikan dorongan positif dengan memodifikasi perilaku dan libatkan keluarga dalam perawatan lansia.



TEKNIK MERANGSANG REFLEKS BERKEMIH
(Carpenito, 2000 dalam Nursalam, 2006)

  1. Anjurkan lansia mengambil posisi setengah duduk.
  2. Mengetuk secara langsung kandung kemih 7-8 kali setiap 5 detik dengan menggunakan satu tangan.
  3. Pindahkan rangsangan di atas kandung kemih untuk menentukan sisi yang paling berhasil.
  4. Lanjutkan ranagsangan di atas kandung kemih untuk menentukan sisi yang paling berhasil.
  5. Lanjutkan rangsangan sampai mulai aliran yang baik.
  6. Tunggu kira-kira 1 menit, ulangi rangsangan sampai kandung kemih kosong. Bila dilakukan rangsangan satu atau dua kali tetap tidak ada respons, maka tidak ada lagi urine yang akan dikeluarkan.

Kushariyadi.2010.Asuhan Keperawatan pada Klien Lanjut Usia.Salemba Medika : Jakarta

Kamis, 28 Maret 2013

Konsep Dasar Keperawatan Gerontik


BAB I
Konsep Dasar Keperawatan Gerontik

1.1 Definisi
      Keperawatan Gerontik adalah suatu pelayanan profesional yang berdasarkan ilmu dan kiat/tehnik keperawatan yang berbentuk bio-psiko-sosial-kultural dan spiritual yang holistik yang ditujukan pada klien lanjut usia baik sehat maupun sakit pada tingkat individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat (Bandiyah. 2009).
      Menurut pasal I ayat 2, 3, 4 dalam UU no 13 tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut ialah seorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun.
      Gerontologi berasal dari kata Geros = lanjut usia, dan Logos= Ilmu. Jadi Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari secara khusus mengenai faktor-faktor yang menyangkut lanjut usia.
      Gerontologi : ilmu yang mempelajari seluruh aspek menua. (kozier, 1987), Cabang ilmu yang mempelajari proses menua dan masalah yang mungkin timbul pada lanjut usia (Miller, 1990)
      Geriartri berasal dari kata Geros = lanjut Usia dan Eatrie= Kesehatan. Jadi Geriartri adalah cabang ilmu kedokteran (medicine) yang berfokus pada masalah kedokteran yaitu penyakit yang timbul pada lanjut usia (Black & Mattasari, 1997).
      Geriartric Nursing : Prakek keperawatan yang berkaitan dengan penyakit pada proses menua (KOZIER, 1987).
      Spesialis keperawatan lanjut usia yang dapat menjalankan peranya pada tiap tatanan pelayanan dengan menggunakan pengetahuan, keahlian, dan keterampilan merawat untuk meningkatkan fungsi optimal lansia secara komprehensif. Oleh karena itu perawatan lansia yang menderita penyakit dan dirawat di Rumah Sakit merupakan bagian dari Geriartric Nursing.

1.2 Batasan-Batasan Lanjut Usia
      Mengenai kapankah orang tersebut disebut lansia, sulit dijawab secara memuaskan. Di bawah ini dikemukakan beberapa pendapat mengenai batasan umur lansia.

  1. WHO
  • Usia pertengahan (middle Age) = 45-59 tahun.
  • Lanjut Usia (elderly)                 = 60-74 tahun
  • Lanjut Usia Tua (Old)               = 76-90 tahun
  • Usia Sangat Tua (Very Old)      = >90 tahun
  1. Prof Dr. Ny Sumiati Ahamad Mohamad
  • 0-1 tahun               = masa bayi
  • 1-6 tahun               = masa prasekolah
  • 6-10 tahun             = masa sekolah
  • 10-220 tahun         = masa pubertas
  • 40-65 tahun           = Prasenium
  • >65 tahun              = Senium
1.3 Lingkup Asuhan Keperawatan Gerontik
      Lingkup Asuhan Keperawatan Gerontik meliputi :

  • Pencegahan terhadap ketidakmampuan akibat proses penuaan.
  • Perawatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akibat proses penuaan.
  • Pemulihan ditujukan untuk upaya mengatasi keterbatasan akibat proses penuaan.     

1.4 Tujuan Geriatri

  • Mempertahankan draja kesehatan para lanjut usia pada taraf yang setinggi-tingginya sehingga terhindar dari penyakit atau gangguan.
  • Memelihara kondisi kesehatan dengan aktivitas - aktivitas fisik dan mental.
  • Merangsang para petugas kesehatan untuk dapat mengenal dan menegakan diagnosa yang tepat dan dini, bila mereka menjumpai kelainan tertentu.
  • Mencari upaya semaksimal mungkin, agar para lansia yang menderita suatu penyakit atau gangguan masih dapat mempertahankan kebebasan yang maksiamal tanpa perlu suatu pertolongan (memelihara kemandirian secara maksimal).
  • Bila para lansia sudah tidak dapa tersembuhkan dan bila mereka sudah sampai pada stadium terminla, ilmu ini mengajarkan untuk tetap memberikan bantuan yang simpatik dan perawatan dengan penuh perhatian sehingga kematianya berlangsung dengan tenang atau comfortable death.

1.5 Peran dan Fungsi Perawat Gerontik
      Dalam prkteknya Perawat Gerontik melakukan Peran dan fungsinya adalah sebagai berikut :

  • Sebagai Care Giver / Pemberi Asuhan Keperawatan Langsung.
  • Sebagai Pendidik klien lansia.
  • Sebagai motivator.
  • Sebagai advokasi klien.
  • Sebagai Konselor.

1.6 Tanggung Jawab Perawat Gerontik

  • Membantu klien lansia memperoleh kesehatan secara optimal.
  • Membantu klien lansia memelihara kesehatanya.
  • Memebantu klien lansia menerima kondisinya.
  • Membantu klien lansia menghadapi ajal dengan diperlakukan secara manusiawi sampai meninggal.

1.7 Sifat Pelayanan Gerontik

  • Independen.
  • Interdependen.
  • Humanistik.
  • Holistik.

BAB II
Proses Menua (Aging Process)

2.1 Teori-Teori Proses Menua
      Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (CONSTANTANIDES, 1994). Ini meruapakn proses yang terus-menerus secara alami yang dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk hidup.
     Sebenarnya secara individual :

  • Tahap proses menua terjadi pada orang dengan usia berbeda
  • Masing-masing lansia mempunyai kebiasaan yang berbeda
  • tidak ada satu faktor pun ditemukan untuk mencegah proses menua.
    Adapun teori yang berkaitan dengan proses menua adalah Teori Biologi dan Teori Kejiwaan Sosial.
  1. Teori-Teori Biologi.
  • Teori Genetik dan Mutasi (Somatic Mutatie Theory), menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies-spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul-molekul / DNA dan setiap sel ada saatnya mengalami mutasi.
  • Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan.
  • Reaksi dari kekebalan sendiri (Auto Immune Theory), menurut teori ini di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suau zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi sakit dan lemah. sebagai contoh ialah tambahan kelenjar timus yang ada pada usia dewasa berinvolusi dan semnjak itu terjadilah kelianan autoimun (menurut GOLDTERIS & BROCKLEHURST, 1989). 
  • Teory Immunology Slow virus (immunologi slow Virus Theory), menurut teori ini siem imun menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus  ke dalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.
  • Teori stress, menurut teori ini menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh, Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.
  • Teori Radikal Bebas, menurut teori ini radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya radikal bebas mengakibakan oksidasi oksigen bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.
  • Teori Rantai Silang, meurut teori ini sel-sel yang sudah usang reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastisitas, kekacauan dan hilangnya fungsi.
  • Teori program, menurut teori ini kemampuan organisme unuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel tersebu mati.
  1. Teori-Teori Kejiwaan Sosial.
  • Continuity Theory, menurut teori ini dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini merupakan gabungan dari teori di atas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seorang lansia dipengaruhi oleh tipe personality yang dimilikinya.
  • Teori Pembebasan, menuru teori ini putusnya pergaulan atau hubunganya dengan masyarakat dan kemunduran individu oleh Cummning dan Henry 1961. Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lansia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjadi "Triple Lost", yakni Kehilangan Peran (Lost of Role), Hambatan Kontak Sosial, dan Berkurangnya komitmen.

2.2 Mitos-Mitos Lansia dan Kenyataannya
      Menurut Heiera Saul (1974) mitos-mitos lansia adalah sebagai berikut :

  1. Mitos Kedamaian dan Ketenangan, mitos ini mengatakan Lansia dapat santai menikmati kerja dari jerih payah di masa muda dan dewasanya. Badai dan berbagai goncangan kehidupan seakan-akan sudah berhasil dilewati. KENYATAANYA : sering ditemui stress karena kemiskinan dan berbagai keluhan serta penderitaan karena penyakit, depresi, kekhawatiran, paranoid, dan masalah psikotik.
  2. Mitos Konservatisme dan Kemunduran, mitos ini memiliki pandangan bahwa lanjut usia pada umumnya konservatif, tidak kreatif, menolak inivasi, berorientasi ke masa silam, merindukan masa lalu, kembali ke masa kanak-kanak, susah berubah, keras kepala dan cerewet. KENYATAANYA : tidak semua lansia bersikap dan berpikiran demikian.
  3. Mitos Berpenyakitan, mitos ini memiliki pandangan bahwa lansia sebagai masa degenerasi biologis yang disertai oleh berbagai penderitaan akibat bermacam penyakit yang menyertai prose menua. KENYATAAN : memang proses menua disertai dengan menurunya daya tahan dan metabolisme sehingga rawan terhadap penyakit, tetapi banyak penyakit yang masa sekarang dapat dikontrol dan diobati.
  4. Mitos Senilitas, mitos ini memiliki pandangan sebagai masa pikun yang disebabkan oleh kerusakan bagian otak. banyak cara untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan daya ingat.
  5. Mitos tidak Jatuh Cinta, mitos ini memiliki pandangan lansia tidak lagi jatuh cinta dan gairah kepada lawan jenis tidak ada.

2.3 Perubahan-Perubahan Pada Lansia

  1. Perubahan-Perubahan Fisik
          a. Sel
  • Berkurangnya cairan intraseluler
  • Menurunya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati.
  • Jumlah sel otak menurun.
  • Terganggunya mekanisme perbaikan sel.
          b. Pernafasan
  • Otot-otot pernafasan menjadi kaku dan kehilangan kekuatan.
  • Menurunya aktivitas dari silia
  • Paru-paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun, dan kedalaman bernafas menurun.
  • Kemampuan untuk batuk berkurang.
  • O2 arteri menurun menjadi 75 mmHg
          c. Pendengaran
  • Presbiakusis (gangguan pada pendengaran).
  • Membran timpani menjadi atrofi.
  • Penggumpalan cerumen
  • Pendengaran bertambah menurun.
          d. Penglihatan
  • Hilangnya respon terhadap sinar.
  • Kornea lebih berbentuk sferis (bola)
  • Katarak
  • Adaptasi terhadap gelap lebih lambat.
  • Hilangnya daya akomodasi
  • Menurunya lapang pandang
          e. Kardiovaskuler
  • Katup jantung menjadi kaku.
  • Kemampuan jantung memompa darah menurun.
  • Tekanan darah meningkat diakibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer.
          f.  Pengatur Suhu Tubuh
  • Temperatur ubuh menurun secara fisiologik karena metabolisme yang menurun.
  • Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktivitas otot.
          g. Persyarafan
  • Berat otak menurun 10-20%.
  • Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi
  • Mengecilnya saraf panca indra
  • Kurang sensitif terhadap sentuhan.
          h. Gastrointestinal
  • Kehilangan gigi.
  • Kemampuan indra pengecap menurun.
  • Esofagus melebar.
  • Waktu pengosongan lambung menurun akibat dari menurunya produksi asam lambung.
  • Konstipasi.
  • Daya absorpsi melemah.
          i.  Genitourinaria
  • Otot-otot vesika urinaria menjadi lemah.
  • Kapasitas Vesika Urinaria menurun sampai 200 ml.
  • Frekuensi buang air kecil meningkat
          j.  Endokrin
  • Produksi dari hampir semua hormon menurun.
          k. Integumen
  • Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
  • Permukaan kulit kasar dan bersisik.
  • Berkurangnya elastisitas
  • Kelenjar keringan berkurang jumlahnya dan fungsinya.
          l.   Muskuloskeletal
  • Tulang kehilangan density dan makin rapuh.
  • Kifosis
  • Discus intervertebralis menipis dan menjadi pendek.
  • Persendian menjadi besar dan kaku.
  • Atrofi serabut otot.
  1. Perubahan-Perubahan Mental
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental :
  • Perubahan fisik.
  • Kesehatan
  • Tingkat Pendidikan
  • Keturunan
  • Lingkungan
  1. Perubahan-Perubahan Psikososial
  • Pensiun, nilai seseorang sering diukur oleh produktivitasnya dan identitas dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Bila seseorang purna tugas, lansia akan kehilangan finansial, status, teman, dan pekerjaan / kegiatan.
  • Merasakan atau sadar akan kematian
  • Perubahan dalam cara hidup.
  • Ekonomi menurun.
  • Meningkatnya biaya hidup.
  • Penyakit kronis dan ketidakmampuan.

2.4 Masalah Kesehatan Lansia

  • Mudah Jatuh
  • Mudah Lelah.
  • Kekacauan Mental Akut.
  • Berdebar-debar (Palpitasi)
  • Nyeri Dada.
  • Nyeri pinggang.
  • Nyeri pada sendi.
  • Sukar Menahan Buang Air Kecil.
  • Sukar Menahan Buang Air Besar.
  • Gangguan Pengliahatan
  • Gangguan Pendengaran
  • Gangguan Tidur.
  • Keluhan Pusing-Pusing.
  • Mudah Gatal-Gatal.

BAB III
Daftar Pustaka

Bandiyah, siti.2009. LANJUT USIA DAN KEPERAWATAN GERONTIK. Nuha Medika: Yogyakarta
Blogspot.com